Header Ads

Peran Nyata Insinyur Indonesia dalam Mendorong Pembangunan IKN


 Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengambil peran dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diawali dengan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Rapimnas ini menjadi momentum para insyinur Indonesia unjuk gagasan dalam mendorong percepatan pembangunan IKN.

"Negara kita betul-betul membutuhkan dukungan insinyur, dimulai dari bidang teknik kesipilan, mekanikal, elektrikal, lingkungan, perkapalan, kelautan, teknik kimia, teknik energi baru terbarukan, dan disiplin lainnya. Dan kita masing-masing bisa berkiprah di berbagai profesi, baik sebagai developer, pelaku industri, pemerintah, akademisi, maupun periset," ucap Ketua Umum PII Danis Hidayat Sumadilaga, Jumat (20/1/2023).

Rapimnas PII dibuka oleh Menteri PPN Suharso Monoarfa dan berlangsung di Hotel Novotel Balikpapan pada Jumat (20/1). Tema yang diusung yakni 'Mengukuhkan Peran Nyata dan Kontribusi PII dalam Pembangunan Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur'.

Menurut Danis yang sekaligus menjabat Ketua Satgas Pembangunan Infrastruktur IKN, tantangan terbesar para insinyur di dunia global adalah dituntut untuk bisa meningkatkan profesionalismenya.

"Kita di PII juga telah bertransformasi menjadi otoritas keinsinyuran melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014. Dan PII telah menjadi bagian dari International Engineering Alliance sejak 2003. Artinya PII akan terus memberikan dukungan besar bagi insinyur di Indonesia untuk mendapatkan global recognition," terang dia.

Saat ini, jumlah anggota PII meningkat menjadi sekitar 63.000 insyinur. Kemungkinan ada peningkatan insinyur profesional sejumlah 23.000. Diharapkan jumlah itu dapat membangun Indonesia termasuk pembangunan IKN.

"Saya harap IKN ini betul-betul menjadi simbol identitas bangsa, betul-betul menjadi penggerak ekonomi di masa depan melalui teknologi dan inovasi, disinilah peran Insinyur," sebutnya.

Sementara itu, Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa yang menjadi keynote speaker dalam Rapimnas PII menerangkan, sudah ada tiga Presiden Indonesia yang berlatar insinyur. Pertama, adalah Presiden Soekarno, BJ Habibie dan Joko Widodo.

Namun, cakupan pembangunan Indonesia serta peluang yang dihadapi cukup besar. Terutama pembangunan kota-kota di Indonesia yang mayoritas dilakukan oleh swasta, tanpa didasari master plan yang sejalan dengan identitas nasional.

"Maka, saya ingin mengajak atau menantang PII untuk menyumbangkan pikiran-pikiran dan gagasan, karena tadi Pak Danis mengatakan kota-kota kita ke depan juga bisa mencontoh IKN," ajak Suharso.

Suharso mengatakan akan menyiapkan 40 kota di Indonesia untuk menjadi percontohan dan supervisi pembangunannya serta didukung master plan. Sehingga perlu kerja bersama antara Kementerian PPN/Bappenas dengan PII.

Dimulai dari kota-kota yang kaya raya, seperti Kabupaten Siak, yang cukup uang, tapi tidak nampak landmark kotanya.

Dia menerangkan, dengan menggunakan semua perangkat instrumen digital, akan sangat cepat untuk merekam rupa muka bumi. Sehingga mudah merekam jejak-jejak pembangunan kota.

"Kita bisa mulai, dengan IKN. Dengan membagi area hijau, dan bangunan. Serta adanya nursery yang sesuai dengan vegetasi yang tumbuh di sana, terang dia.

"Hari ini saya hadir, menantang PII untuk bekerja sama dengan Bappenas, ayo kita membangun 40 kota. Insinyur Indonesia itu adalah maker. Insinyur Indonesia itu bukan trader,"

No comments

Powered by Blogger.